PERMAINAN
TRADISIONAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan
Karakter
Menurut Thomas Lickona (1991),
pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti, yaitu yang melibatkan
aspek pengetahuan (cognitive), perasaan ( feeling ), dan tindakan (action), tanpa
ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Sedangkan
menurut Kemendiknas (2010), pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang
dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik
memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hokum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan
sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan
sekolah. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada
setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau
nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan,
dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran
nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada
internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di
masyarakat.
Pendidikan karakter bertujuan
untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang
mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik
secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi kelulusan.
Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi
serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud
dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan
memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus
memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia.
Pengertian Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan
warisan antar generasi yang mempunyai makna simbolis di balik gerakan, ucapan,
maupun alat-alat yang digunakan. Pesan-pesan tersebut bermanfaat bagi
perkembangan kognitif, emosi dan sosial anak sebagai persiapan atau sarana
belajar menuju kehidupan di masa dewasa. Pesatnya perkembangan permainan
elektronik membuat posisi permainan tradisional semakin tergerus dan nyaris tak
dikenal. Memperhatikan hal tersebut perlu usaha-usaha dari berbagai pihak untuk
mengkaji dan melestarikan keberadaannya melalui pembelajaran ulang pada
generasi sekarang melalui proses modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi
sekarang (Elly Fajarwat, 2008: 2)
Permainan digunakan sebagai istilah
luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan perilaku yang luas serta mungkin
bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia anak.
Permainan tidak lepas dari pada adanya
kegiatan bermain anak, sehingga istilah bermain dapat digunakan secara bebas,
yang paling tepat adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang
ditimbulkan, bermain dilakukan secara suka rela oleh anak tanpa ada pemaksaan
atau tekanan dari luar.
Permainan tradisional juga dikenal
sebagai permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya
bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara
hubungan dan kenyamanan sosial.
Dalam hal ini, permainan merupakan
alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dia ketahui sampai
pada yang dia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya, sampai mampu
melakukannya. Dengan demikian bermain suatu kebutuhan bagi anak. Dengan
merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain yang sesuai dengan
taraf kemampuannya. Jadi bermain bagi anak mempunyai nilai dan ciri yang
penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk dalam
permainan tradisional
Menurut Bennet (1998: 46) dengan ini
diharapkan bahwa permainan dalam pendidikan untuk anak usia dini ataupun anak
sekolah terdapat pandangan yang jelas tentang kualitas belajar, hal ini
diindikasikan sebagai berikut:
1. Gagasan dan minat anak merupakan
sesuatu yang utama dalam permainan
2. Permainan menyediakan kondisi yang
ideal untuk mempelajari dan meningkatkan mutu pembelajaran
3. Rasa memiliki merupakan hal yang
pokok bagi pembelajaran yang diperoleh melalui permainan
4. Pembelajaran menjadi lebih relevan
bila terjadi atas inisiatif sendiri.
5. Anak akan mempelajarai cara belajar
dengan permainan serta cara mengingat pelajaran dengan baik
6. Pembelajaran dengan permainan
terjadi dengan gampang, tanpa ketakutan
7. Permainan memudahkan para guru untuk
mengganti pembelajaran yang sesungguhnya dan siswa akan mengalami berkurangnya
frustasi belajar. Permainan bagi anak merupakan bagian yang sedemikian
diterimanya dalam kehidupannya sekarang sehingga hanya sedikit orang yang
ragu-ragu mempertimbangkan arti pentingnya dalam perkembangan anak.
Permainan Tradisional dan Perkembangannya
Permainan
tradisional anak adalah salah satu bentuk folklore yang berupa yang beredar secara lisan di antara
anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun, serta banyak mempunyai variasi. Menurut Misbach (2006), permainan
tradisional yang ada di Nusantara ini dapat menstimulasi berbagai aspek
perkembangan anak,
seperti:
1. Aspek motorik: Melatih daya tahan, daya lentur,
sensorimotorik, motorik kasar, motorik halus.
2. Aspek kognitif: Mengembangkan maginasi, kreativitas,
problem solving, strategi, antisipatif, pemahaman kontekstual.
3. Aspek emosi: Katarsis emosional, mengasah
empati, pengendalian diri
4. Aspek bahasa: Pemahaman konsep-konsep nilai
5. Aspek sosial: Menjalin relasi, kerjasama,
melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk
melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih
dewasa/masyarakat.
6. Aspek spiritual: Menyadari keterhubungan dengan
sesuatu yang bersifat Agung (transcendental).
7. Aspek ekologis: Memahami pemanfaatan
elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana.
8. Aspek nilai-nilai/moral: Menghayati nilai-nilai
moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.
Jika
digali lebih dalam, ternyata makna di balik nilai-nilai permainan tradisional
mengandung pesan-pesan moral dengan muatan kearifan lokal (local wisdom) yang
luhur dan sangat sayang jika generasi sekarang tidak mengenal dan menghayati
nilai-nilai yang diangkat dari keanekaragaman suku-suku bangsa di Indonesia.
Kurniati
(2006) mengidentifikasi 30 permainan tradisional yang saat ini masih dapat
ditemukan di lapangan. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa permainan
tradisional mampu mengembangkan keterampilan sosial anak. Yaitu keterampilan
dalam bekerjasama, menyesuaikan diri, berinteraksi, mengontrol diri, empati,
menaati aturan serta menghargai orang lain. Interaksi yang terjadi pada
saat anak melakukan permainan tradisonal memberikan kesempatan kepada anak
untuk mengembangkan keterampilan sosial, melatih kemampuan
bahasa, dan kemampuan emosi.
Permainan Tradisional Yang Edukatif
Dari penelitian yang dilakukan para
ilmuan, diperoleh bahwa bermain mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan
anak dalam hidupnya. Tujuan Permaian Edukatif sebenarnya untuk mengembangkan
konsep diri (self concept), untuk mengembangkan kreativitas,
untuk mengembangkan komunikasi, untuk mengembangkan aspek fisik dan motorik,
mengembangkan aspek sosial, mengembangkan aspek emosi atau kepribadian,
mengembangkan aspek kognitif, mengasah ketajaman pengindraan, mengembangkan
keterampilan olahraga dan menari.
Permainan
edukatif itu dapat berfungsi sebagai berikut:
1. Memberikan ilmu pengetahuan kepada
anak melalui proses pembelajaran sambil belajar.
2. Merangsang pengembangan daya pikir,
daya cipta, dan bahasa, agar dapat menumbuhkan sikap, mental serta akhlak yang
baik.
3. Menciptakan lingkungan bermain yang
menarik, aman dan menyenangkan.
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran
anak-anak.
Manfaat Permainan Tradisional Dalam Membentuk Karakter Anak
Pertama, dengan permainan
tradisional anak akan selalu melahirkan nuansa suka cita. Dalam permainan
tersebut jiwa anak terlihat secara penuh. Suasana ceria, senang yang dibangun senantiasa melahirkan dan
menghasilkan kebersamaan yang
menyenangkan.
Kedua, Permainan dibangun secara bersama-sama artinya, demi menjaga
permainan dapat berlangsung secara wajar, mereka mengorganisir diri dengan
membuat aturan main diantara
anak-anak sendiri. Dalam konteks inilah anak-anak mulai belajar mematuhi aturan
yang mereka buat sendiri dan disepakati bersama. Disatu sisi, anak belajar mematuhi aturan bermain secara fairplay,
disisi lain, merekapun berlatih membuat aturan main itu sendiri. Sementara itu, apabila ada anak yang
tidak mematuhi aturan
main, dia
akan mendapatkan sanksi sosial dari sesamanya. Dalam kerangka inilah, anak mulai belajar hidup bersama sesamanya
atau hidup bersosial. Namun demikian dipihak lain, apabila dia mau mengakui kesalahannya, teman yang lain pun
bersedia menerimanya kembali.
Ketiga, keterampilan anak terasah, anak terkondisi membuat
permainan dari berbagai bahan yang
telah tersedia di sekitarnya. Dengan demikian, otot atau sensor–motoriknya akan
semakin terasah pula.
Keempat, pemanfaatan bahan–bahan
permainan, selalu tidak terlepas dari alam. Hal ini melahirkan interaksi antara
anak dengan lingkungan sedemikian dekatnya.
Kelima, hubungan yang sedemikian
erat akan melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia. Alam menjadi sesuatu yang dihayati
keberadaanya, tak terpisahkan dari kenyataan hidup manusia.
Keenam, melalui permainan anak
mulai mengenal model pendidikan partisipatoris. Artinya, anak memperoleh
kesempatan berkembang sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan jiwanya.
Sumber :
·
Andriani,
Tuti. 2012. Permainan
Tradisional Dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini. Riau.
·
Danandjaja, James. 2002. Folklor
Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Graffiti
·
Koesoema, A. Doni. 2010. Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Grasindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar